•  
  • creative gbis kepunton website team
Beranda » RUBRIK UMUM » Kebejatan Moral Manusia
Senin, 30 Agustus 2010 - 23:30:45 WIB
Kebejatan Moral Manusia
Diposting oleh : Administrator
Kategori: RUBRIK UMUM - Dibaca: 2972 kali

Kebejatan Moral Manusia

 

Menyimak berita di media akhir-akhir ini membuat hati kita menjadi ngiris saja. Berbagai tidak kriminalitas seperti : pembunuhan, pemerkosaan, permpokan dsb merupakan suguhan yang acap kali bisa kita lihat di televisi maupun Koran.

Hal tersebut mengindikasikan betapa bejatnya moralitas manusia di akhir zaman ini. Dipihak yang lain munculnya budaya negatif yang sudah menjadi trend di tengah-tengah kehidupan manusia dewasa ini seperti : freesex, perselingkuhan, perceraian, korupsi dll... semakin menambah daftarpanjang tentang adanya dekadensi moral manusia di abad modern.

Tidak bisa dipungkiri lagi budaya negatif diatas sudah menjadi “ Life Style “ manusia saat ini. Itulah wajah manusia yang bisa kita lihat hari-hai ini. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat memilukan bila manusia sebagai ciptaan Allah yang tertinggi senantiasa berperilaku bejad tanpa mengindahkan nilai-nilai, norma-norma dan kebenaran-kebenaran yang hakiki yang telah ada.

Lewat tulisan ini penulis ingin menyampaikan bagaimana Alkitab berbicara tentang kebejatan moral manusia dewasa ini.

Keakraban manusia dengan dosa.

Semenjak manusia jatuh dalam dosa, maka saat itu juga dosa telah menguasai seluruh aspek kehidupan manusia telah kehilangan hal yang paling esensi dalam dirinya yaitu kemuliaan Allah )Roma 3:23).

Keberdosaan manusia menyebabkan dirinya sangat rentan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Oleh sebab itu sepanjang manusia membiarkan dirinya hidup dalam dosa, maka dosa itu akan mengikut dengan begitu kuat.

Keakraban manusia dengan dosa menyebabkan manusia jauh dari persekutuan dengan Allah (Efesu 4:18a). Paulus mengatakan dalam Efesus 4:19 bahwa sebagai akibat hidup jauh dari persekutuan dengan Allah, maka hati manusia telah menjadi tumpul dan senantiasa menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan segala macam kecemasan.

Kata tumpul dalam bahasa Yunani memakai istilah “ Apalageo “ yang berarti : “ Menjadi tidak berperasaan, Tidak peka “. Ketika hati manusia telah menjadi tumpul maka dapat dipastikan tidak ada lagi rasa kemanusiaan, keperdulian dan kepekaan terhadap sesama.

Justru sebaliknya yang muncul adalah sikap apatis dan hal-hal yang jahat lainnya. Sering kita mendengar ataupun mellihat berita seseorang dengan begitu sadisnya membunuh orang dengan cara-cara yang tidak manusiawi seperti tindakan mutilasi, hal tersebut bisa terjadi karena hati manusia telah menjadi tumpul.

Dipihak yang lain manusia tidak lagi mamiliki kepekaan terhadap sesamanya dan lebih mencintai dirinya sendiri secara berlebihan sehingga dengan menghalalkan segala macam cara untuk memperkaya diri.

Tidak mengherankan bila manusia berani melakukan tindakan korupsi dengan terang-terangan tanpa memperhatikan penderitaan sesamanya. Bila hati manusia telah menjadi tumpul, hal-hal diatas bisa saja terjadi dan dilakukan oleh siapa saja. Demikian potret buram tindakan manusia sekarang ini, ketika hatinya sudah menjadi tumpul dan tidak ada lagi kasih didalamnya.

Implikasi dari keakraban manusia dengan dosa lainnya yaitu membuat hidup manusia menyerahkan diri kepada hawa nafsu. Kata menyerahkan diri dalam bahasa Yunani memakai istilah “ Paradidomi “ (kata ini muncul 119 kali dalam BP). Kata “ Paradidomi “ berarti : “menyerahkan dengan sadar “. Memberikan diri sepenuhnya “.

Ketika manusia dengan sadar memberikan diri sepenuhnya untuk melakukan dosa, maka sudah tidak ada lagi rasamalu dalam dirinya. Sehingga tidak mengherankan bilamana orang melakukan dosa seperti : perselingkuhan dan perceraian sedemikian marak dalam kehidupan manusia akhir-akhir ini.

Buah dari keakraban manusia dengan dosa lainnya adalah mengerjakan segala macam kecemasan. Kata mengerjakan dipakai istilah “ Egrasia “ berarti “ berusaha terus_menerus”. Sedangkan kata kecemasan dipakai istilah “ Akathasia “ (Muncul 10 kali dalam BP)  yang memiliki arti : “Perbuatan yang tidak bermoral”.

Hal inilah yang terjadi dalam hidup manusia hari-hari ini, dimana saat manusia sedemikian asyik akrab dengan dosa maka yang terjadi adalah manusia berusaha terus-menerus untuk melakukan perbuatan-perbuatan yagn tidak bermoral.

Hal yang sudah biasa terjadi bagaimana pornografi menhiasi kehidupan disekitar kita. Hal tersebut bisa kita jumpai di majalah-majalah, buku-buku, vcd porno yang bisa dijual disembarang tempat. Belum lagi situs-situs porno yang berkeliaran di internet yang hampir setiap saat bisa diakses oleh siapa saja. Hal-hal tersebut diatas sudah sedemikian akrab dalam kehidupan manusia dewasa ini.

Di pihak yang lain hal-hal yang terkait dengan pornografi memang selalu digandrungi oleh manusia sekarang ini. Semisal ketika untuk pertama kali buku yang berjudul : “ Jakarta Under Cover “ karya M.Emka beredar maka buku tersebut menjadi best seller dan hasil penjualan buku tersebut membuat nama hasil penulis terkenal.

Hingar bingar dunia malam dengan esek-eseknya menambah daftar panjang bagaimana manusia terus-menerus berusaha untuk memuaskan segala hawa nafsu. Demikianlah moralitas manusia sekarang ini sudah terpuruk, kesemuanya itu terjadi bila manusia dengan sengaja membiarkan diri untuk terus-menerus akrab dengan dosa.

Bila dosa sudah menyeret hidup manusia semakin jauh, maka akan susah untuk keluar dari dalamnya. Hal itu akan menjadi lingkaran setan yang terus mengikat diri manusia.
 

Karasteristik Moral Manusia Di Akhir Zaman.

Alkitab menegaskan bahwa dunia sekarang ini semakin bertambah jahat. (Efesus 5:16). Lebih lanjut Paulus juga mengingatkan bahwa sekarang ini kita sedang berada pada angkatan yang bengkok hatinya dan sesat. Kata bengkok hati dipakai istilah “ Skolops “ yang artinya : “ Jahat “ “ Rusak “.

Itu berarti saat ini kita sedang berada dalam dunia yang jahat dan begitu rusak. Dunia dimana kita tinggal sekarang sudah tidak lagi bersahabat karena kebejatan dan kebrutalan yang hari-hari ini manusia terus lakukan. Hal tersebut merupakan wajah dari karakteristik manusia di akhir zaman.

Dalam 2 Timotius 3:1-5 Paulus memaparkan dengan jelas di hari-hari Terakhirsituasi akan makin buruk ditandai dengan bertambahnya kejahatan dalam dunia dan runtuhnya standar moral dalam diri manusia.

Dari apa yang Paulus paparkan dalam 2 Timotius 3:1-5 tentang karakteristik moral manusia di akhir zaman sebenarnya bersumber pada 2 hal yaitu :
  • Pertama, Manusia Lebih Mencintai Dirinya Sendiri.
    • Mencitai diri sendiri secara berlebihan adalah akar dari dosa. Ketika seseorang mencintai diri sendiri sengan berlebihan maka segala sesutu yang dilakukan selalu berfocus pada dirinya.
      Orang-orang seperti ini biasanya tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya. Terpenting adalah dirinya menjadi pusat perhatian, maka sebagai akibat mencintai diri sendiri manusia mulai menyombongkan diri (ayat 2b).
      Kesombongan diri adalah sikap yang merasa diri sendiri lebih hebat dari siapa saja termasuk Allah sekalipun. Bila sikap kesombongan diri semacam ini selalu dibangun dalam diri manusia akan bertumbuh menjadi pribadi yang sok berkuasa sehingga bisa berbuat apa saja yang dikehendakinya.
      Banyak contoh sejarah memperlihatkan betapa kesombongan diri membuat seseorang berbuat apa saja bagi sesamanya. Contoh yang paling nyata pada zaman NAZI, betapa sikap berkuasa yang dimiliki seorang Hitler dengan seenaknya membantai orang-orang Yahudi pada waktu itu.
      Tentu kita tahu ribuan nyawa orang-orang Yahudi melayang dengan sia-sia saat itu akibat sikap sok berkuasanya seorang Hitler karena merasa dirinya seperti itu masih saja mewarnai kesombongan diri manusia akhir-akhir ini, mereka yang berkuasa dan berkedudukan bisa berbuat apa saja bagi yang lemah.
      Tanpa belas kasih mereka dengan begitu gampang menggilas sesamanya. Itulah wajah manusia bila kesombongan diri menjadi raja dalam diri setiap orang.
      Dampak yang lain dari seseorang mencintai diri sendiri adalah akan menjadi hamba uang (ayat 2). Kata hamba uang dipakai istilah Philarguros yang berarti “ yang mencintai uang “. Bila hidup manusia selalu mencintai uang, maka uang akan menjadi tuas atasnya.
      Bila sudah demikian manusia akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan uang. Tidak peduli apa yang dilakukannya bertentangan dengan kebenaran-kebenaran yang ada. Inilah gambaran yang nyata bila uang berkuasa atas diri manusia.
      Seiring dengan hal diatas, memang manusia berbuat apa saja. Dengan uang yang dimiliki seseorang bisa membeli “Keadilan Hukum” demi menyelamatkan diri. Dengan uang pula seseorang bisa saja memperalat orang-orang untuk melakukan tindakan-tindakan anarkhis demi memasakan ambisiusnya.
      Dengan uang pula seseorang mampu menyuap siapa saja demi memuluskan jalan bisnisnya. Itulah akibat bila seseorang mencintai uang melebihi siapa saja termasuk Tuhan sekalipun. Seharusnya manusia bisa menjadi tuan yang baik atas uang bukan malah sebaliknya.

  • Kedua: Manusia Semakin Hidup Jauh Dari Kebenaran Allah.
    • Paulus dengan begitu gamblang memaparkan bagaimana kondisi manusia ketika hidupnya semakin jauh dari kebenaran Allah dalam surat Timotius 3: 2-5. Penulis hanya menyampaikan beberapa hal karateristik manusia akibat hidup jauh dari kebenaran Allah. Adapun yang menjadi fokus perhatian kita adalah sebagai berikut:
      1. Tidak Memperdulikan Agama.
        Tidak bisa dipungkiri bahwa ketikahidup seseorang semakin jauh dari Allah, maka seseorang sengan begitu mudahnya menjauhi perkara-perkara rohani. Kondisi inilah yang hari-hari ini terjadi dalam manusia diakhir zaman dimana agama hanya dijadikan kegiatan formalitas belaka.

        Dengan mengatas namakan agama manusia dengan begitu mudahnya melakukan tindakan-tindakan anarkhis yang bisa merugikan sesama lainnya. Agama tidak lebih sebagai usaha untuk bisa berbuat apa saja dengan seenaknya di negeri ini.

        Cukup memilukan memang bila agama disalahgunakan dengan semena-mena, justru seharusnya adalah sesuatu yang mulia dimana perlu dijunjung kehormatannya. Lebih menyedihkan lagi bila agama dijadikan alat untuk menghancurkan tempat ibadah pemeluk agama lainnya.
      2. Tidak Mau Berdamai.
        Hidup yang damai sudah hilang dari kehidupan manusia sekarang ini. Justru yang terjadi adalah adanya konflik konflik yang menjadi pemicu seorang untuk saling berbaku hantam dengan sesamanya.
        Bila kita menengok wajah negeri ini, acap kali konflik yang berkepanjangan terjadi antara etnis satu terhadap yang lain. Sekalipun sudah dilupakan dengan berbagai cara untuk berdamai, tetap sajasikap untuk tidak mau mengalah, kekerasan hati masih saja mewarnai setiap pribadi manusia.
        Inilah wujud dari karakteristik moralitas manusia di akhir zaman ini.
      3. Kata tidak dapat mengekang diri dipakai istilah “ Akrates “ yang berarti : “ Tidak dapat menguasai diri, brutal. Tidak bisa mengontrol diri.
        Ketika manusia tidak dapat mengekang diri maka yang terjadi adalah bersikap garang, brutal, tanpa aturan, bahkan selalu melakukan kekerasan. Sikap-sikap tersebut diatas masih saja terjadi sekarang ini.
        Dimana antar kelompok desa tertentu berbaku hantam dengan kelompok desa yang lain hanya karena disebabkan oleh masalah-masalah kecil yang seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
        Di pihak yang lain tindakan-tindakan brutal akibat dari tidak bisa menerima sebuah kekalahan dalam sebuah even sehingga melakukan pengerusakan fasilitas-fasilitas umum yang menderita kerugian materi yang tidak sedikit jumlahnya.
        Tentu ingatan kita masih disegarkan beberapa bulan lalu bagaimana  sikap-sikap brutal, garang dari anak negeri ini yang kemudian harus merenggut nyawa.
        Sungguh menyedihkan memang nyawa seseorang harus melayang dengan sia-sia lantaran sikap-sikap tidak terpuji semacam itu.
      4. Tidak Suka Yang Baik.
        Dalam dunia yang semakin rusak ini, perkara-perkara yang buruk justru dilakukan oleh manusia. Tidak mengherankan bila kita melihat bagaimana pengaruh dari suatu pergaulan yang buruk di kalangan anak-anak muda sekarang ini seperti : Miras, Narkoba, Free Sex dsb, demikian kuat pengaruhnya.
        Sungguh memprihatinkan memang bila wajah generasi muda sekarang ini menjadi rusak akibat dari pengaruh pergaulan negatif yang semacam itu. Anehnya justru banyak anak-anak muda yang menyukai hal-hal itu dan melakukannya tanpa memperhitungkan akibat buruk yang diimbulkan dari perkara-perkara yang tidak baik seperti itu. Inilah realita yang ada didepan kita sekarang ini.

Respon Allah Terhadap Kebejatan Moral Manusia.
 
Berbagai kebejatan moralitas manusia dewasa ini memang sungguh keterlaluan. Kita mungkin berpikir apakah Allah tinggal diam saja di sorga?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka Paulus dengan begitu gamblang mengatakan dalam surat Roma 1:16 : “ Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman “.

Dari ayat tersebut, Pualus dengan jelas menyatakan hukuman Allah atas dosa-dosa manusia. Paulus tidak berbicara mengenai golongan manusia tertentu, pada zaman tertentu, yang mungkin lebih buruk dari orang lain atau zaman lain. Yang ia lukiskan di sini adalah keadaan manusia pada umumnya dilihat dari terang Firman Allah.

Kata kunci dari apa yang dikatakan Paulus adalah “ Murka Allah “. Disini kita melihat bagaimana reaksi Allah sangat tegas atas bagaimana kebejatan moral yang dilakukan oleh manusia. Kata “ Murka Allah “ itu dinyatakan kepada setiap orang tanpa memandang muka.

Allah tidak segan segan untuk menghukum manusia yang berbuat kefasikan dan kelaliman. Kalaupun saat ini masih saja kita lihat berbagai tindakan kejahatan manusia masih merajalela, satu hal yang pasti “ Cepat atau lambat Allah akan menghukum manusia “.

Kita hanya tinggal menunggu waktu Allah menyatakan murkaNYA dengan perbuatan yang dasyat. Bila murka Allah dinyatakan siapakah manusia yang sanggup untuk mengelaknya. Hukuman murka Allah sedang mendekat, bahkan sudah ada, dan menjadi nyata dalam kelakuan manusia sendiri (ayat 21-32).
 
 
Apilikasi Praktis
 
Menyikapi kebejatan moralitas manusia yang sedang terjadi hari-hari ini, bagaimana sikap kita sebagai orang percaya di akhir zaman ini?

Satu: Tetap Hidup Dalam Kebenaran Allah.

Paulus mengatakan dalam surat Roma 12:2 : “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini “., tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, “. Ayat tersebut menegaskan bahwa kita harus berbeda dengan dunia ini, sekalipun kita hidup ditengah-tengah kebejatan moral manusia.

Kita harus mampu membuat perbedaan, artinya kita harus berani tampil beda dengan pola hidup dunia. Itu berarti kita tidak perlu terbawa arus dunia dengan segala kejahatannya, sebaliknya kehadiran kita harus memberi warna yang indah bagi dunia dengan tetap hidup dalam kebenaran Allah senantiasa.

Kedua: Memberi Keteladanan Hidup Yang Baik.

Dalam surat Titus 2:7 mengatakan : ” Jadilah dirimu sendiri suatu Teladan yang baik “. Di Dunia yang semakin ini, dibutuhkan sosok pribadi yang mampu menjadi contoh, panutan yang baik bagi lingkungan di sekitarnya.

Kehadiran kita di tengah-tengah dunia sekarang ini harus “ Mampu untuk meyakinkan dan dapat di yakini oleh orang lain “ dengan menunjukkan keteladanan hidup yang baik. Itulah panggilan hidup kita sebagai umat Tuhan bagi dunia ini. (HAN)