•  
  • creative gbis kepunton website team
Beranda » RUBRIK UMUM » Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Senin, 30 Agustus 2010 - 23:07:19 WIB
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Diposting oleh : Administrator
Kategori: RUBRIK UMUM - Dibaca: 10558 kali

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

(Oleh : AGUS SULISTYO SH.)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan menyaksikan di media masa banyakya pengaduan tentang peristiwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ke Kepolisi atau ke HAM, Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau beberapa LSM yang aktif dalam memerangi KDRT. Pengaduan yang melibatkan artis atau publikfigure sering menyita banyak perhatian kalangan dan rata-rata dari pengaduan mereka berakhir dengan perseturuan yang berkepanjangan dan banyak pula yang diakhiri dengan perceraian. Hampir tidak ada kasus-kasus pengaduan karena peristiwa KDRT dapat diselesaikan dengan baik yang berakhir pada pemulihan keluarga yang utuh.
Bagaimana keluarga Kristen menyikapi hal ini agar tidak terjebak pada kecenderungan KDRT yang makin meraja lela? Ada satu contoh kasus KDRT yang dialami keluarga Kristen yang mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua. Ceria singkat kasusnya sebagai berikut :

 

Tahun 2004 datang kepada asanya seorang perempuan telah bersuami sebut saja namanya Susi. Dia telah menikah dengan suaminya selama 15 tahun dan telah dikaruniakan seorang anak perempuan yang manis dan pintar, usianya kira0kira 15 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat harmonis, apalagi kedua suami dan istri adalah aktivis gereja tempat dimana mereka menjadi anggota jemaat. Namun beberapa waktu belakangan ini kondisi Rumah Tangga mereka berubah drastis dari yang semula sangat harmonis, bahagia, penuh perhatian, dan ada damai ditengah-tengah keluarga mereka berubah menjadi situasi yang berlawanan. Perlakuan kekerasan secara psikis dan fisik sering diterima Susi dari suaminya. Kondisi ini berjalan beberapa lamanya hingga suatu ketika si istri berteriak histeris karena perlakuan suaminya yang marah sampai menendang anak perempuannya hingga anak itu menangis ketekutan . Setelah itu sang anak selalu ketakutan dan menghindar jika didekati ayahnya. Karena ditanya apa yang menjadi perubahan suaninya, Susi mengatakan suaminya berubah sejak punya WIK. Susi berkeras hati setelah kejadian diatas ia ingin menceraikan / minta cerai suaminya karena ia sudah tidak tahan lagi.

Atas peristiwa itu saya antar Susi ke rekan pengacara perempuan yang juga merupakan aktifis gereja. Setelah mereka berbicara secara empat mata diketahui teman pengacara ia memberikan advis demikian : “Ibu jangan punya pikiran cerai, sekarang ini lebih baik ibu dan anak ibu untuk sementara tidak tinggal serumah dulu dengan suami. Dan semetara itu ibu tetap menjaga komunikasi yang positif dengan suami. Dengan berjalannya waktu silakan ibu bergumul dan berserah kepada Tuhan untuk suatu yang terbaik bagi Rumah Tangga Ibu”. Kini setelah empat tahun berselang, hubungan suami isteri dan anak itu berangsur pulih, behkan dalam beberapa kesempatan mereka sudah terlihat bersama-sama dengan suasana yang hangat seperti ada kebahagiaan diantara mereka. Pikiran “cerai” yang sempat menghinggapi Susi sudah terpikirkan lagi olehnya.


Untuk menyikapi persoalan KDRT alangkah baiknya kita meliaht lebih dulu perangkat peraturannya yaitu UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Pasal 4 dari perturan ini menyebutkan tujuan Undang-undang ini adalah :

  • Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga;
  • Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga;
  • Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga;dan
  • Memelihara keutuhan Rumah Tangga yang harmonis dan sejahtera. 
Dalam banyak kasus KDRT banyak orang dan atau pihak-pihak terkait yang berwenang memberikan perlindungan hukum lebih mengedepankan pada poin a, b, c dari pasal 4 di atas. Sedangkan poin d atau memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera mendapat porsi perhatian yang amat sumir bahkan ditempatkan di urutan paling belakang dari prioritas penanganan masalah KDRT.

Demikian pun berdasarkan pasal 10 UU ini korban mempunyai hak mendapatkan :
  • Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari perngadilan;
  • Pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis;
  • Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
  • Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat hukum pada sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;dan
  • Pelayanan bimbingan bimbingan rohani.
Berdasarkan pasal 10 ini lagi-lagi setiap pengaduan korban kepada pihak-pihak terkait selalu mengedepankan poin a, b, c dan d, sedangkan poin e atau pelayanan bimbingan penangnan sangat sumir dan ditempatkan paling belakang, seolah-olah ini tidak menemtukan bagi pemulihan keutuhan hubungan keluarga.

Bagaimana dengan yang dilakukan Susi?

Sebagaimana cerita di atas Susi datang kepada orang/ pihak yang berkompeten (pengacara) dan menyampaikan maksud kedatangannya. Kata kunci “cerai” sudah terucapkan oleh Susi untuk mengakhiri kekerasan yang dialaminya dari suami yang dicintainya itu. Waktu itu seakan dunia sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Beruntung Susi bertemu seorang pengacara yang memiliki pemahaman iman Kristen yang baik, sehingga tidak terjebak pada perseolan sebatas hitam-putih saja, siapa benar-siapa salah, siapa punya apa dan seterusnay. Lebih dari itu Susi diarahkan kepada penyerahan kepada Allah secara total atas kondisi rumah tangga. Adapun saran untuk Susi agar ia dan anaknya tidak tinggal serumah untuk sementara waktu dengan suaminya adalah merupakan upaya menusiawi yang juga dilindungi oleh undang-undang.
Sebagaimana diceritakan diatas pula bahwa setelah proses “berpisah” untuk sementara waktu berlangsung selama hampir empat tahun, rupanya Tuhanbekerja memproses semua pihak dalam keluarga Susi, baik suami maupun anak, sehingga dalam beberapa waktu belakangan ini keluarga tersebut meski belum tinggal serumah lagi secara total tetapi mereka sudah serung bersama-sama ddalm suasana yang hangat penuh kedamaian. Luka-luka dalam rumah tangga seakan sudah terhapus dan mereka mulai merajut kembali rumah tangganya  yang sudah beberapa waktu tergoncang tanpa arah yang jelas.
Kasus di atas hingga saat ini memang belum menyatukan secara total keluarga Susi, tetapi kata “cerai” yang sempat terucapkan olehnya sudah tidak pernah terpikirkan lagi, bahkan hubungan keluarga diantara mereka berangsur-angsur membaik dan hangat.

Apa yang membedakan kasus KDRT pada umum dengan penanganan kasusKDRT yang dialami Susi, yakni :
  • Berdasarkan tujuan (pasal4) :penanganan kasus KDRT pada umumnya lebih mengedepankan tujuan pada poin a, b, dan c, sedangkan kasus Susi lebih mengedepankan prioritas penanganan pada pada poind, yaitu memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera disamping melakukan pendekatan berdasrkan tujuan lainnya juga.
  • Berdasarkan hak-hak korban (pasal 10): penanganan kasus KDRT pada umumnya lebih mengedepankan hak-hak korban yakni poin a, b, c, dan d, sedangkan penanganan pada poin e, yaitu pelayanan bimbingan melakukan pendekatan lainnya juga.

Berdasarkan analis diatas maka menurut iman menurut iman Kristen bisa dikatakan bahwa tujuan adanya UU Penghapusan kekerasan Dalam Rumah Tangga menjadi sia-sia jika penanganan kasus hanya mengendepankan kepentingan individu- individu pihak yang terkait saja. Sia- sia karena ujung-ujungnya dalam setiap pengaduan KDRT adalah rumah tangga yang makin berantakan dan berujung pada perceraian. Dalam hal ini Keluarga Kristen harus selalu menempatkan keutuhan dan pemuliahan keluarganya supaya tidak ada perceraian dalam keluarga Kristen. Sebagai penutup ada baiknya kita renungkan makna Firman Tuhan dari kejadian 2:18;

Tuhan Allah berfirman : “ Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Siapakah kita mempertahankan keutuhan rumah tangga saat terjadi KDRT di keluarga kita? Peraturan negara dan alat-alat negara itu diperlukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita, tetapi keutuhan dan pemulihan keluarga yang sesungguhnya hanya ada dan berasal dari Tuhan Yesus Juru Selamat kita. Tuhan sudah memberikan kasih Karunia-Nya untuk keluarga kita. Maukah kita berstandar hanya kepada Tuhan? Shaloom.